Hasil Investigasi Jatuhnya Pesawat Air Asia

 Entertainment, News, Technology

Pesawat Air Asia jatuh karena rusaknya sistem kemudi

Rusaknya sistem kemudi

Pesawat Air Asia QZ8501_klikbca303

Klikbca303.com | Jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501 beberapa waktu lalu masih terus diselidiki oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sampai saat ini, dan mereka tidak menemukan adanya indikasi pengaruh cuaca sebagai penyebab kecelakaan tersebut. Dari hasil penyelidikan yang didapat KNKT jatuhnya pesawat tersebut akibat dari rusaknya sistem kemudi dan mode terbang manual.

KNKT telah menyelesaikan investigasi jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501, pesawat naas itu jatuh di Selat Karimata, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah saat menempuh penerbangan dari Surabaya menuju Singapura pada 28 Desember 2014 beberapa waktu lalu. Ketua KNKT, Kapten Nurcahyo Utomo dalam jumpa pers di Jakarta 1 Desember mengatakan rusaknya sistem kemudi non mode terbang manual menjadi penyebab jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501 yang menewaskan 162 penumpang.

jumpa pers

Jumpa pers KNKT 1 Desember 2015_klikbca303

Dari hasil investigasi mendapati bahwa dalam perjalanan pesawat diatas ketinggian 32 ribu kaki, pesawat tersebut mengalami empat kali kerusakan sistem yang bisa disebut ‘rudder travel limiter unit’ (RTLU). Gangguan keempat itu disusul dengan gangguan listrik pada komputer pesawat atau Flight Augmentation Computer (FAC)  yang digunakan sebagai sistem kendali. Setelah kedua FAC mati, auto pilot dan auto thrust pun langsung tidak aktif.

Dengan tidak berfungsinya dua komputer pesawat ini akan mengakibatkan mode penerbangan pesawat beralih dari normal law menjadi alternate law dimana dalam posisi ini beberapa proteksi pesawat jadi tidak berfungi dan pesawat terbang secara manual dan saat itu pesawat sempat berada dalam posisi ‘upset condition’ dan mati sama sekali hingga akhir rekaman data percakapan.

Seperti yang kita tahu ‘upset condition’ adalah kondisi berbahaya yang dapat mengakibatkan hilangnya kendali pesawat terbang. Dan jika suda sampai posisi seperti ini sudah diluar kemampuan pilot untuk melakukan pemulihan.

Tak Ada Indikasi Pengaruh Cuaca

Nurcahyo juga menjelaskan data yang diperoleh dari kotak hitam pesawat tidak menunjukkan sama sekali adanya indikasi pengaruh cuaca sebagai penyebab kecelakaan pesawat Air Asia. Namun, dalam satu tahun terakhir sebelum kecelakaan itu terjadi, KNKT telah menemukan 23 kali kerusakan yang terkait dengan “rudder travel limiter system” pada AirAsia QZ8501.

Dalam pemaparan hasil investigasi hari Selasa KNKT menyampaikan beberapa rekomendasi, antara lain Air Asia Indonesia diminta untuk memiliki terminologi standar yang digunakan pilot untuk komunikasi sehingga tidak ada salah interpretasi. Air Asia Indonesia juga diminta melatih pilot untuk mengambil alih kemudi pada saat-saat kritis dan didorong memiliki sistem yang mampu mendeteksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi berulang kali.

Air Asia Bertekad Tingkatkan Standar Keselamatan

Menanggapi hasil investigasi KNKT itu, Presiden Direktur Air Asia Indonesia Sunu Widyatmoko dalam siaran pers yang diterima VOA menyatakan setelah tragedi QZ8501, Air Asia menggandeng mantan regulator FAA dan Bureau Veritas untuk memberikan rekomendasi guna meningkatkan standar keselamatan penerbangan Air Asia.

Air Asia juga melakukan beberapa inisiatif keselamatan sebelum laporan KNKT dikeluarkan, termasuk menambahkan pelatihan “upset recovery” dalam silabus pelatihan.

Air Asia menurut siaran pers tersebut berkomitmen untuk mengembangkan dan meningkatkan proses keselamatan secara berkelanjutan agar sesuai dengan standar keselamatan internasional yang terbaik.  Demikian Hasil Investigasi Jatuhnya Pesawat Air Asia oleh KNKT.

 

 

 

 

 

 

Related Posts